السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 08 Mei 2017

Belajar Bahasa Arab Ammiyah, untuk TKI, Travel and Tour


#Belajar Bahasa Arab Tuk TKI di Arab yuk
# Percakapan Sehari hari di Arab
# Travel and tour di Arab

Karena minimnya  pembelajaran Bahasa Arab Ammiyah serta minimnya referensi untuk TKI, maka mahasiswa BSA Humaniora UIN Malang, yang mengambil konsentrasi Siyahah/pariwisata, membuat beberapa media di antaranya percakapan yang disebar lewat youtube dll. Dan diakhir percakapan ada beberapa kosa kata baru yang biasa digunakan di Arab, terutama bagi TKW, jamaah haji, umrah dan bahasa keseharian (Ammiyah). Vedio ini diperuntukkan bagi yang berkepentingan untuk melakukan perjalanan, percakapan sehari hari dengan Amniyah.  Tapi bagi pembelajar bahasa Arab umumnya hendaknya lebih menghukhususkan pada bahasa Arab fushah. Di Konsentrasi Pariwisata BSA yang kami ajarkan adalah _Bhs Arab lil A'mal, Al Arabiyah lil siyahah, Al arabiyah lil Hajj, dan Asshifah Arabiyah.
Akhukum Halimi Zuhdy
 


3.Kosa Kata hajj wa Umroh :https://youtu.be/jqM1FVhgQnc


5. Penukaran uang :https://youtu.be/-xa1puxeDe4



8.di Bandara dan Hotel :https://youtu.be/dxcr13Jx80s

9. Taarum/perkenalan :https://youtu.be/qKvnAZwUPIk


*Rehat sejenak tuk _nyanyian Arab Ammiyah TKW Dan Hindi_ https://youtu.be/Am9eYWzrdUk
Mudah-mudahan bermanfaat, mohon saran dan kritiknya. 

Halimi Zuhdy
Mentor pembelajaran Bahasa  Arab _lil aghrod khasshoh_ (trevel and tour, jurnalistik, pekerja, muthawwif, dll)
Cp. 085729320568

Jumat, 05 Mei 2017

Fatwa Cinta 71. (Inikah Cinta itu? Bergelombanglah!)



Halimi Zuhdy



Cinta itu selalu menciptakan ketidakrasionalan, ia selalu ada walau tak nyata, seperti angin berdesir mensemilirkan tubuh, seperti gigil walau tak ada salju, kadang tampak kabut berselimut walau tak bisa terekam diri. Cinta tak berwujud, tapi benar-benar wujud. Terasa sentuhannya, walau taka da tangan yang bersentuh di tubuh. 
  
Apakah ini cinta, mata mengalirkan darah rindu, tubuh yang tak kuasa melihat sang kekasih tak kunjung tiba. Suatu hari, Tsauban bin Bujdad menemui Rasulullah saw sang mahbub dengan wajah yang tampak muram, tak seperti biasa, sedih menyelimutinya, rona yang terserit begitu resah. 

Rabu, 03 Mei 2017

Selamat HARDIKNAS 2017: Mengajar dengan Cinta


Halimi Zuhdy


Cinta itu seperti udara, tak bisa bernafas tanpanya. Demikian pula pendidikan, manusia seperti bangkai yang bergerak, jika tak ada nafas ilmu di dalamnya

Anak yang hebat dan cerdas, tapi tidak bernafas ilmu yang baik, akan menjadi pencuri hebat yang suka berbelit.

Anak lemah badannya, namun ada ruh ilmu di dalamnya, ia akan bangkit melipat seribu bumi mengawal cinta sempurna. Berwawasan global, walau badannya lemah tak berdaya.

Fatwa Cinta: 70 (Berbeda Itu Cantik Lo, tapi, tuk Cantik tidak Harus Beda)


Halimi Zuhdy

Indahnya pelangi, bukan karena menebar wangi, tapi warna-warni yang mengitari

Warna hijau hanyalah pilihan, maka janganlah terlalu fanatik pada hijau, bunga yang indah, warnanya pun jarang yang hijau. Indahnya bunga, merah yang merekah.

Jangan pula terlalu mati-matian membela merah, ia pun rasa hati, manusia takut melihat warna peduh darah yang memerah, perang jadi pilihan. Butuh warna kuning, tuk membau masa tua.

Tapi, janganlah terlalu pongah pada kuning, kebanyakan yang keluar dan membau keluar dari diri manusia dan hewan adalah warna itu, nikmatilah kuning sebagaimana ia menikmati menjadi dedaunan yang akan menua.

Seminar FATWA CINTA

KINI HADIR, Seminar Keren, 
FATWA CINTA



Pra terbit menjadi buku, akan dikupas mesra oleh penulisnya. mengapa fatwa ini hadir, dan bagaimana fatwa -fatwa ini menjadi kata-kata yang begitu mempesona? 

Bahasa sastra sarat hikmah ini, akan menjadi ouse dalam kekeringan sahara rindu yang berbalut nafsu, ia akan menghadirkan fatwa tanpa kekang walau tak jarang penuh ayat Tuhan. Sebagai landas gerak dan maraji' rindu.

Catat dan ikuti 
seminar FATWA CINTA, Selasa, 2 Mei 2017 di Masjid Ulul Albab lantai 2, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Fatwa Cinta: Bukan Fatwa Biasa 6



Halimi Zuhdy

214. Jemari yang tak sepadan, seperti kita yang tak kudu serupa, tapi bagaimana ritme jemari menyatu tuk bergandeng bersama. #FatwaCinta

215. Sela-sela jari yang tidak menyatu, untuk mencari sela jari-jari lain agar bergenggam mesra dalam rinduNya. #FatwaCinta

216. Hari yang indah, walau tak ada nasi untukku, asal masih ada baris-baris puisi yang candu buatku, ayat-ayatNya selalu membuka pintu tuk masuk pada rindu.#FatwaCinta

217. Cinta selalu rahasia, seperti kau merahasiakan hati untukku. kadarnya tak terukur, walau ribuan mil kucoba melihat gelagatmu. benarlah, cinta harus bersabar menunggu waktu #FatwaCinta


Malang, 27/04/2017

Fatwa Cinta: Bukan Fatwa Biasa 5

Halimi Zuhdy

209. Berbagi tidak harus abadi dan dikenang, seperti embun yang menyapa pagi, hilang ketika mentari bertandang.#FatwaCinta

210.Embun yang menyapa dedaunan, membulirkan rindu. seperti kau berbagi rindu, walau ia tak pernah merindumu, tetaplah rindu yang membuncahkan cinta.#FatwaCinta

2011. Jika ada Isyarat lampu merah yang menghadangmu, maka bersyukurlah! waktunya kau menenangkan diri, setelah itu akan hijau tuk kembali.#FatwaCinta

212. Jika kau bergegas tuk sampai, ada lubang yang menghujam, kau terjungkal, tersenyumlah!!!. barangkali, lubang itu penghadang dari kematian, takdirmu pun terselamatkan, tetaplah khusnudhan pada Allah. #FatwaCinta

2013. Bercermin jangan pada yg pecah, akan membuat kotak wajah. jangan pula pada air, akan hanyut, tapi pada bening hati yang terasah.#FatwaCinta

Malang, 26/04/2017

Selasa, 25 April 2017

Fatwa Cinta: Bukan Fatwa Biasa 4



Tidak usah berlama-lama memandangku, jika kau cinta lamarlah aku, cinta sungguh di hati, bukan di mata kita #FatwaCinta

sampaikan cinta dngn sederhana, ia akan mnjdi kesederhanaan cinta,jika ia bermegah rasa, ia akan terjungkal dengan seribu bahasa #FatwaCinta

Kegilaan Qois pd Laila, menjadi opus cinta. tetapi, apkh kita hrus gila seprti dia untuk sbuah cinta, cintailah ia dgn sederhana #FatwaCinta

Isak tangismu, bukti kau masih punya rasa untukku, maka menangislah! karena tangismu adalah air kemurnian hatimu. #FatwaCinta

tangan kirimu dan tangan kananku, bergandeng mesra, tak lagi berbeda, mengapa harus ada benci. #FatwaCinta

Fatwa Cinta: Bukan Fatwa Biasa 3

Rumput-rumput yang mengering, bukan karena mentari yang membakar, tapi tanah yang sedang gersang, rindu buliran hujan. #FatwaCinta

Hati yang tak lagi bahagia, bukan karena tak ada harta, tahta dan kenimatan dunia. tapi karena dzikir kerinduan pada-Nya yang selalu terlupa. #FatwaCinta

Indah?bukanlah merekahnya bunga, tapi selamatnya kuncup dan putiknya dari kumbang. Demikian, indahnya wanita, jika mampu jaga diri! #FatwaCinta

Menyelesaikan masalah, belajarlah pada Isra' Nabi. Selain dari Masjid ke Masjid, beliau menemui Tuhannya, diwajibkanlah shalat. #FatwaCinta

Senin, 17 April 2017

Fatwa Cinta : Bukan Fatwa Biasa 2


Halimi Zuhdy

#FatwaCinta
Kadang datang orang padamu membawa bunga, kadang juga jarum, maka nikmati bunga itu, tapi juga harus hati-hati, barangkali ia bunga api yang menguskan. Tapi jangan buang jaru itu, simpanlah ia, barangkali, suatu saat dapat merangkai baju bersama mutiara.

Selalu sibuk dengan urusan perut, maka perilakunya terkadang seperti yang kelaur dari perut. #FatwaCinta.

Menjadi pisau tidak harus selalu membelah dan menguliti, ia kadang mengukir kayu untuk rona indah, dan membersihkan sisa kotoran yang menempel. #FatwaCinta

Selasa, 11 April 2017

Fatwa Cinta 60: [Perempuan dan Tangisan]


Halimi Zuhdy

Menangislah wahai perempuan, 
selagi air mata itu mampu dialirkan

Menangislah wahai perempuan, 
selagi nafas itu berhembus

Menangislah wahai perempuan, 
selama rasa itu masih ada

Biarkanlah, orang sebut kau cengeng, karena air matamu adalah penawar rindu, karena air matamu mampu meluluhkan kalbu, karena air matamu mengurai segala empedu.

Jumat, 31 Maret 2017

Pengantar Buku Antologi Puisi “Puisiku Sunyi"


Seuntai Kata :  “Tak Seindah Puisi”, Katamu!



Halimi Zuhdy

Puisi lahir dari imaji-imaji yang berkeliaran, juga lahir dari realitas-realitas sekitar yang diwarnai dengan khayal. Kata-katanya; kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Ia selalu hadir dalam lintasan senjarah, menjadi juang walau tidak pernah berjuang, menjadi senjata walau tidak mampu mematikan, atau hanya menjadi teman dalam sepi bagi yang selalu merasa kesepian. Ia selalu unik dalam kehadirannya.
Puisi, tidak sebatas kata yang diikat kalimat, dipoles dengan titik dan koma, yang menjadi bait-bait indah disanggul larik, yang liriknya membariskan rasa, membuat prasa sendiri dalam tubuhnya. Fisiknya; kadang kurus, kadang gemuk, terkadang sedang. Kurus, gemuk dan sedang tidak membuatnya harus  diet, tambah makana pala ginutrisi, ia selalu menjadi dirinya sendiri. Ia memliki cara gaya yang berbeda; metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

Jumat, 24 Maret 2017

Fatwa Cinta 56 : Kekuasaan Itu Cinta, Maka Berimanlah


Halimi Zuhdy

Jangan berebut kekuasaan, karena kekuasaan akan sirna. Berebutlah Pemilik kekuasaan, Ia abadi selamanya.

Jangan berebut pengaruh, karena pengaruh kan fana. Rebutlah Pemilik pengaruh, Ia kan mempengaruhi selamanya.

Untuk baik, tidak harus menjadi penguasa, rakyat yang baik, lebih indah dan bahagia.
Kekuasaan apapun tidak akan lama, ia hanya sebagai pemanis rasa, maka carilah kekuasaan hati agar mampu menguasai diri dan bertemu Ilahi.

Kekuasaan adalah pemberian Tuhan, maka serahkan kepada PemberiNya, jangan keluar dari garisNya, maka akan menjadi Fir'un, Namrud dan Hitler berikutnya.

Selalu manis bersentuhan dengan kekuasaan, karena ia dapat menentukan teman dan menumpuk segudang kekayaan, kecuali bagi yang benar-benar karena Tuhan, Ia serahkan dirinya *atas nama pengabdian.* 

Jangan takut turun jabatan, karena jabatan dan kekuasaan hanyalah titipan, *kalau Allah masih mempercayakan, seribu manusia tak mampu menurunkan.*

Jangan minta kekuasaan, mintalah yang terbaik pada Tuhan, jika berkuasa lebih baik dan bermanfaat, maka RidhaNya harapan.

Kalau berkuasa akan menghancurkan, mohonlah jadi orang biasa, yang tetap dalam keindahan. Jangan memaksakan kehendak atau melepaskan kehendak, *karena Pemilik kehendak yang akan memberikan Kehendak sesungguhnya*.

Senin, 20 Maret 2017

Fatwa Cinta: Bukan Fatwa Biasa 1

Fatwa Cinta in https://twitter.com/halimizuhdy


Nafas-nafas itu tak kan berdetak lagi, bila kau tak pernah peduli, pada dzikir yang terpanjat di pagi hari #FatwaCinta

Udara yang menguap, selalu kusentuh dengan rindu, agar nafasnya selalu ada sebagai ruh untukku #FatwaCinta

Nafasku kan selalu ada, jika kau masih ada untukku #FatwaCinta

Memahami manusia, tidak cukup dengan pikiran, ia harus menngunakan hati.  

Pahamilah diri kita, sebelum memahami orang lain, mengapa kita harus ada, bukan saja mereka ada

Kamis, 16 Maret 2017

Untuk Kyaiku, KH. Hasyim Muzadi



Halimi Zuhdy

Jalan yang kau tempuh,
kini sudah purna

Lembaran sejarah,
kau cipta nyata

Selalu indah, ungkapanmu

membungakan ilmu,
Tutur katamu

Senyum terselip,
Dalam setiap pandanganmu

Selasa, 14 Maret 2017

Fatwa Cinta 52: Kehendak Allah vs Kehendak Manusia


Halimi Zuhdy

[Keinginan Allah, Buah Cinta]

Apa yang kita inginkan, belum tentu apa yang Allah kehendaki. Karena, ketika keinginan kita yang kita paksakan, hanya akan menjadi petaka, dan membawa kesombongan. Kalau keinginan Allah yang kita menangkan, disanalah ketauhidan dan kepasrahan menjadi pemenang.

*Keinginan kita, belum tentu terbaik untuk kita, tapi keinginan Allah pasti terbaik bagi kita.* Kerena arsitek dan desainer pasti lebih tahu apa yang telah ia ciptakan. faiidza azamta, fatawakkal ala Allah, Jika kau memiliki keinginan yang kuat melakukan sesuatu, setelah itu pasrahkan kepada Allah.


Rabu, 08 Maret 2017

FATWA CINTA 49 : Kecil, pada Hakekatnya Besar




Halimi Zuhdy

Kadang kita takut berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan melimpah, atau yang lagi memiliki kekuasaan. Selalu merasa kecil di hadapan mereka, mereka besar kita kecil, ukuran yang sebenarnya tidak ada ukurannya. *Karena gunung tidak akan pernah penjadi gunung yang besar, tanpa kerikil-kerikil kecil yang menyatu, dasyatnya sunami tidak akan mampu menghempaskan tanpa gelombang kecil yang mengitarinya. Kecil, bukanlah ukuran kekalahan, atau kerendahan, ia hanya sebatas sangkaan. Karena kecilnya atom mampu menghancurkan Nagasaki dan Hirosima*. 

Burj Khalifah  bangunan tertinggi di dunia, tidak akan pernah menjulang, tanpa debu-debu kecil, bercampur kerikil dengan orkesta semin dan ornaminnya yang kadang tak terlihat. Maka, mengapa kita selalu merasa kecil dalam semesta yang juga kecil di hadapanNya, sesama makhluk tidak boleh merasa rendah, karena yang mengukur rendah dan tingginya pangkat adalah Allah swt. 

Fatwa Cinta 45 : Rahasia Pakaian



Halimi Zuhdy


Pakaian bukan hanya benang-benang yang terajut, bukan pula polesan warna-warni dengan ukiran indah.

Ia tidak terbatas pelindung tubuh lagi, tetapi juga sebagai penanda batas-batas status sosial.

Pakaian bukan lagi sebagai pembalut tubuh tuk pelindung dari sengatan panas mentari dan cengkraman dinginnya malam, bukan pula hanya tuk menutupi aurat, tapi ia balutan kemewahan, kewibawaan, status kepangkatan, status diri tuk berada pada kemuliaan diri.

Pakaian dengan fenomenanya terekam dalam berbagai kisah cinta, murka dan angkara.

Senin, 23 Januari 2017

IBU, Penggerak Karakter (Cerita Luar Biasa)



(1)

Suatu hari, seorang guru bertanya kepada murid- muridnya,

"nanti kalau sudah besar cita citanya apa?"

Jawaban mereka bervariasi, ada yang ingin jadi; pilot, dokter, arsitek dan sederet cita-cita seputar pekerjaan tersebut, tetapi ada satu di antara para murid yang memiliki cita-cita berbeda, yaitu cita citanya ingin jadi Sahabat. semua murid tertawa mendengarkan cita-cita murid tadi, karena merasa aneh dan mungkin lucu.

Kamis, 19 Januari 2017

Fatwa Cinta 31


Halimi Zuhdy

Nafas yang berhembus dari setiap insan, tak untuk dihitung, dan tak pernah ada yang menghitungnya, karena dianggap tak penting, tapi sudah berapa nafas yang digerakkan untuk kebaikan dan kesia siaan, juga jarang dihitung. Tapi, ketika hembusan itu sesak satu detik, betapa semua sibuk untuk menghitungnya.

Berapa nafas yang telah dihembuskan, dan berapa hembusan untuk kebaikan, pasti akan ditanyakan, untuk apa nafas digunakan? Manusia tanpa nafas, adalah bangkai.
Betapa nafas akan berhenti pada waktunya, dan tidak lagi mampu memguapkannya, ia akan menjadi awan dalam amalnya.

Kullu nafsin dzaiqitul maut, setiap yang bernafas/jiwa akan merasa kematian*
Berapa nafas yang telah berjejal, memenuhi ruang ruang kehidupan
Tapi, apakah nafas kan berhenti, hanya tuk sebuah kesia siaan


Nafas, kan bernilai bukan dari jumlahnya, tapi berapa nafas yang telah mendzikirNya.

Tabanan Bali, 14/01/2017

Fatwa Cinta 30


Halimi Zuhdy

Sebening air mata yang membulir di pipimu, sebening itu pula hati menyapa cintamu.
Air mata walau tak menggelombang dan mengombak, ia mampu menghantam benteng hati yang paling musuh, mampu menembus kekokohan benci, ia mengalir lembut, dan membawa arus hati menuju muara cinta.

Air mata; membulir, mengalirkan rasa, mensaljukan rindu, mengikatkan hati, ia datang untuk menghempaskan beku rindu, ia datang menembus batas khayal.

Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."

Air mata, memecahkan batu pedih, mengurai benang kusut, menggapai pahala. Maka, selagi ada air mata, menangislah dalam cinta

Dalam suatu kesempatan Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya."

Malang-Bali 13/01/2017
Berada di Situbondo, menyaksikan air mata langit, merindu bumi.

Fatwa Cinta 29


Halimi Zuhdy

Cerahnya pagi, bukan hanya karena ada mentari, tapi awan yang tidak datang menyelimuti
Bahagianya seseorang, bukan hanya karena diberikan rezeki, tapi bagaimana ia mampu selalu mampu berdamai dengan hati,dan menyibak duri iri dan dengki dalam setiap karnaval diri.

Bahagianya diri, bukan pula karena tampan jasadi, tapi pesona hati mampu memberikan mentari cinta pada setiap insan yang mengitari diri.

Cinta yang indah, bukan karena adanya Cinta, tapi cinta yang memberi rembulan rindu, awannya tersibak angin kasih, dan berakhir pada fajar saling mengerti dan memahami, bahwa jalan yang kan dilalui penuh onak dan duri, tapi kan berakhir di penghujung cinta abadi.

Malang, 11/1/2017

Fatwa Cinta 28


Halimi Zuhdy

Cinta tak butuh waktu, 
ia hanya butuh rindu. 

Rindu tak butuh harta,
Ia hanya butuh rasa.


Rasa tak butuh jasa,
Ia hanya butuh perasa.


Perasa pun tak butuh apa-apa, hanya butuh kapan ia selalu ada.

"Ada" pun, tak pernah "Ada", karena hakekat "Ada", karena adanya cinta. 

Malang, 9/1/2017

Fatwa Cinta 27


Halimi Zuhdy


Yang baik itu bagaimana sih? tanya, seseorang.Yang lembut belum tentu baik, yang kasar juga belum tentu jelek, demikian pula yang sedang, belum tentu baik atau jelek. 

Jarum itu kasar, dan kasarnya jarum itu baik, dan sangat bermanfaat. bagaimana jadinya, kalau jarum itu lembut, maka ia tidak akan banyak memberikan kemanfaatan, atau bahkan tidak bisa digunakan. Kain itu lembut, bagaimana seandainya jarum itu juga lembut, maka tidak akan bisa dirajut, dan tidak akan bisa menjadi baju. Lembutnya baju itu baik. 

Demikian, kalau seandainya parut lembut, maka tidak mungkin menghasilkan hasil parutan yang terbaik, atau tidak akan menghasilkan apa apa.

Maka, kapan kebaikan tampak, jika bisa menempatkan pada tempatnya. Kapan ia harus lembut, kapan ia marah, kapan ia harus tersenyum, kapan ia harus tertawa, kapan ia harus bersedih, kapan ia menangis, semuanya menjadi kebaikan, jika berada pada posisinya. Tapi, posisi itu pun, tidak terlepas bagaimana jalan yang ditempuhnya, dan akhir dari kebaikan itu, adalah pemilik kebaikan.

Menempatkan pada tempatnya, apapun Adalah kebaikan. Maka, tidak melihat orang kasar dan marah kemudian ia pemarah, bisa saja marahnya adalah kebaikan. Dan juga tidak bisa melihat senyum dan lembut adalah kebaikan, bisa saja ia adalah sebuah kepura-puraan. 

Mudah-mudahan kita, menjadi orang yang selalu berada pada tempat yang baik dalam kebaikan. Dan sesuatu dengan keinginan Tuhan.

Malang, 7/1/2017

Jumat, 06 Januari 2017

Fatwa Cinta 26


Halimi Zuhdy

Senyum tampak indah, bila hati merekah. Senyum kan hambar, bila hati berawan. 

Senyum adalah sedekah, karena ia memberi, memberi adalah mengeluarkan, mengeluarkan adalah membersihkan, membersihkan dari; dengki, hasad, iri, amarah, sombong, dan keangkuhan. Membersihkan dapat menyucikan, suci; jasad, hati, dan pikiran adalah keberuntungan. Qod aflaha man tazakka(Ayat).

Keindahan bukanlah bentuk yang selalu tampak, tapi bagaimana ruh cinta menyelimuti.

Gresik, 1/1/2017